12 Juni 1964: Pejuang Anti Apartheid, Nelson Mandela Dihukum Penjara Seumur Hidup

Share it

“Saya belajar bahwa keberanian itu bukanlah ketiadaan rasa takut, tetapi kemenangan di atasnya. Pria pemberani bukanlah orang yang tidak merasa takut, tetapi dia yang berhasil menghadapi rasa takutnya.”-Nelson Mandela


Racikan.id-Apartheid adalah sebuah sistem pemisahan ras yang diterapkan oleh pemerintah kulit putih di Afrika Selatan dari sekitar awal abad ke-20 hingga tahun 1990.

Hukum apartheid dicanangkan pertama kali di Afrika Selatan, yang pada tahun 1930-an dikuasai oleh dua bangsa kulit putih, koloni Inggris di Cape Town dan Namibia serta para Afrikaner Boer (Petani Afrikaner) yang mencari emas/keberuntungan di tanah kosong Afrika Selatan bagian timur atau disebut Transvaal (sekarang kota Pretoria dan Johanesburg).

Akibat dari kebijakan ini, penduduk Afrika Selatan digolongkan menjadi empat golongan besar, yaitu kulit putih atau keturunan Eropa, suku bangsa Bantu (salah satu suku bangsa di Afrika Selatan), orang Asia yang kebanyakan adalah orang Pakistan dan India dan orang kulit berwarna atau berdarah campuran, diantaranya kelompok Melayu Cape.

Hendrik Verwoerd, Perdana Menteri ke-7 Afrika Selatan menempatkan mayoritas warga berkulit hitam di negara itu ke kawasan khusus yang disebut Bantustan atau homelands. Kawasan-kawasan pemukiman ini disediakan hanya untuk kaum kulit hitam.

Orang-orang berkulit putih seperti Verwoerd memandang dirinya sebagai anggota kaum elit di benua hitam tersebut. Verwoerd dan partai nasionalisnya mendefinisikan apartheid sebagai perkembangan terpisah, antara kelompok yang diistimewakan dan yang dianggap lebih rendah.

Pemisahan ras itu menentukan tata kehidupan secara umum. Di tempat-tempat umum ditetapkan peraturan ketat pemisahan antara kaum kulit putih dan tidak berkulit putih. Pernikahan campuran dilarang.

Dengan Group Areas Act tahun 1950 dilakukan pemisahan kawasan tempat tinggal. Pendidikan dan lapangan kerja juga diatur berdasarkan ras. Di luar homelands kaum berkulit hitam harus selalu membawa paspor

Dengan adanya sistem penerapan pemisahan suku yang diterapkan di Afrika Selatan ini mendapat tanggapan dunia internasional. Bahkan Majelis Umum PBB mengutuk sistem tersebut.

Tindakan-tindakan yang dilakukan oleh pemerintah tersebut juga mendapat tanggapan yang serius dari rakyat  Afrika Selatan.

Di Afrika Selatan sering terjadi gerakan-gerakan pemberontakan untuk menghapus pemerintahan Apartheid. Gerakan yang terkenal dilakukan oleh kalangan rakyat kulit hitam Afrika Selatan dipelopori oleh African National Congress (ANC) yang berada di bawah pimpinan Nelson Mandela.

Tahun 1960 di selatan Johannesburg 20 ribu warga kulit hitam tanpa paspor menyerbu pos polisi, membiarkan dirinya ditangkap pihak berwenang. Demonstrasi itu berakhir dengan pembunuhan massal.

ANC kemudian dilarang. Nelson Mandela melakukan perlawanan bersenjata dalam gerakan bawah tanah, dengan menyerang pusat-pusat industri.

Pada 55 tahun silam, 12 Juni 1964, tokoh pejuang anti-apartheid Afrika Selatan, Nelson Mandela dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.

Pria yang kala itu memimpin Africal National Congress (ANC) dinyatakan bersalah karena melakukan sabotase terhadap pemerintahan yang waktu itu didominasi oleh kaum putih, meski warga mayoritas Afrika Selatan sendiri berkulit hitam.

Selain Mandela, tujuh rekannya juga dijatuhi hukuman serupa oleh Pengadilan Pretoria, yakni Sekretaris Jenderal ANC Walter Sisulu dan petinggi lain: Dennis Goldberg, Govan Mbeki, Raymond Mhlaba, Elias Mosoaledi, Andrew Mlangeni yang gigih memperjuangkan nasib warga kulit hitam.

“Saya tak membantah jika saya berencana melakukan sabotase. Saya memang nekat, tapi tak bermaksud memicu kekerasan. Saya ingin semuanya berjalan damai dengan langkah ini untuk meruntuhkan pemerintahan diktator,” ujar Mandela, seperti dimuat BBC on This Day.

Pengacara Mandela dan rekan-rekannya, Hansen QC mengatakan, “klien saya berjuang keras untuk hak asasi manusia yang setara, bahwa kaum kulit hitam memilik hak yang sama dengan kulit putih di negeri ini.”

Namun demikian, hakim pengadilan, Quartus de Wet mengatakan, pihaknya tidak percaya bahwa gerakan Mandela di bawah bendera ANC untuk sebuah revolusi demi hak asasi manusia warga Afrika.

“Bagi kami, gerakan ini lebih kepada ambisi personal mereka, bukan untuk memperjuangkan hak rakyat. Ini ambisi untuk mengambil alih pemerintahan,” jelas hakim de Wet.

Pada tahun 1960, gerakan ANC dinyatakan sebagai tindakan makar menyusul pembantaian Sharpeville. 

Sebelumnya Mandela dan kawan-kawan terancam hukuman mati meski Hakim de Wet pada akhirnya memutuskan hukuman seumur hidup.

Meski dihukum seumur hidup, namun pada akhirnya di tahun 1990, Mandela pada akhirnya dibebaskan setelah 27 tahun mendekam di bui.

Tahun 1994 berlangsung pemilu yang bebas dan adil untuk pertama kalinya di Afrika Selatan. Mandela terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama.

Pemerintahnya mengakhiri sistem apartheid dan merintis rekonsiliasi nasional. Nelson Mandela juga tercatat sebabagi penerima hadiah Nobel Perdamaian. (Barru Aditya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *