audrey

Perkembangan Kasus Audrey: Dari Hasil Visum, Hingga Tiga Siswi Ditetapkan Sebagai Tersangka

Racikan.id-Viralnya kasus dugaan pengeroyokan terhadap siswi SMP di Pontianak, yang terjadi pada Jumat, 29 Maret 2019, tepatnya di kawasan belakang Pavillion Informa, Jalan Sulawesi, Pontianak, telah menyedot perhatian publik. Mulai dari Selebritis hingga Presiden Jokowi turut menyampaikan keprihatinannya atas terjadinya kasus tersebut.

Apa yang menimpa Audrey (14) ini, mengundang simpati dari masyarakat luas. Tak terkecuali di media  sosial. #JusticeForAudrey yang trending di twitter, selasa (9/4/2019) menjadi bentuk simpati dari para netizen.

Saat ini, Pihak Polresta Pontianak telah menetapkan tiga orang tersangka yang diduga melakukan kekerasan terhadap korban. Ketiganya ditetapkan sebagai tersangka setelah Polisi memeriksa sejumlah saksi.

 
“Dari Polresta Pontianak sudah menetapkan tiga orang tersangka,” kata Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Donny Charles Go, Rabu (10/4/2019).

Donny mengatakan penetapan tersangka ini dilakukan setelah polisi menemukan bukti yang cukup serta kesesuaian keterangan antara saksi dan korban. Saat ini proses penyidikan masih berlangsung.

“Yang diperiksa ini tidak hanya korban, ibu korban, tapi juga semua anak-anak SMA yang ada di lokasi, diperiksa seluruhnya. Dari beberapa pengakuan saksi yang ada di sana sudah mengerucut pada tiga tersangka,” jelasnya.

Ketiga tersangka, L, TPP, dan NNA dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 3,5 tahun penjara.

Kabid Humas Polda Kalimantan Barat, Kombes Donny Charles Go mengatakan ketiganya dijerat dengan Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Sesuai dengan UU Nomor 11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, dilakukan diversi atau pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.

Sementara itu, didampingi oleh Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah, (KPPAD) Pontianak Alik R Rosyad, tujuh dari 12 siswi SMA yang terkait kasus dugaan kekerasan terhadap Audrey, memberikan klarifikasi.

Dalam klarifikasinya itu, secara bergantian mereka menyampaikan permintaan maaf kepada korban, Audrey. Di antara mereka ada yang mengaku tidak berada di dua lokasi kejadian di Aneka Pavilion di Jalan Sulawesi dan Taman Akcaya di Sutan Syahrir, Pontianak, pada Jumat (29/3).

Dikutip dari Antara, para pelajar itu menyebut tidak melakukan pengeroyokan. Mereka mengaku berkelahi satu lawan satu, sementara teman-teman yang lain hanya menyaksikan. Ada juga yang mencoba melerai perkelahian tersebut.

“Jadi kami tidak mengeroyok. Kami berkelahi satu lawan satu,” kata salah satu pelajar tersebut.

Ketiga tersangka penganiayaan terhadap Audrey, menyampaikan permohonan maaf kepada korban, pihak keluarga, serta masyarakat luas. Mereka juga menyatakan menyesal.

“Kami menyesal dan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada korban, pihak keluarga, dan masyarakat umum,” kata salah seorang tersangka dalam jumpa pers di Mapolresta Pontianak seperti dilansir Antara, Rabu (10/4/2019). 

Polisi juga mengungkap hasil visum dari pemeriksaan Audrey. Visum dilakukan sepekan setelah dugaan pengeroyokan terjadi di rumah sakit tempat Audrey dirawat.

Dalam jumpa pers di Pontianak, Rabu,(10/4/2019),  Kapolresta Pontianak Kombes M Anwar Nasir memaparkan hasil visum. Diterangkannya, bahwa dari hasil visum, kepala korban tidak bengkak dan tidak ada benjolan. Tidak ada memar di mata dan penglihatan normal.

“Dada, tidak ada memar dan bengkak. Jantung dan paru-paru normal. Perut datar, bekas luka tidak ditemukan. Organ dalam abdomen tidak ada pembesaran,” jelasnya. 


Anwar mengatakan, dari pengakuan korban, terduga pelaku sempat menekan alat kelamin korban. Berdasarkan hasil visum, tidak ada bekas luka di alat kelamin.

“Alat kelamin, selaput dara atau hymen, intact. Tidak tampak luka robek atau memar,” ucap Anwar. 

“Kulit tidak ada memar, lebam, maupun bekas luka,” tambahnya.

Sebelumnya, pada senin, (8/4/2019) dalam konferensi pers terkait kasus ini pula, ketua KPPAD Kalbar, Eka Nurhayati Iskak mengatakan, karena korban dan pelaku masih dibawah umur, maka pihaknya akan memberikan pendampingan kepada kedua belah pihak.

“ kami berusaha semaksimal mungkin agar kasus ini, jangan sampai masuk ke ranah kepolisian, yaitu sampai ke ranah pengadilan. mengingat  anak-anak ini sama-sama dibawah umur, sama-sama berhak dilindungi oleh UU no 35 tahun 2014.,” ucap Eka Nurhayati Iskak.

(costa)

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

sixteen + 11 =