kurt cobain vocalis nirvana

Kurt Cobain, Nirvana Dan Grunge Yang Mendunia

Share it

Racikan.id– Hari ini, 25 tahun lalu, tepatnya pada tanggal 5 april 1994, Ikon dari aliran musik Grunge sekaligus pentolan Nirvana, Kurt Cobain dinyatakan tewas bunuh diri.

Apabila kita bicara mengenai Sosok seorang Kurt Cobain, tentu saja tak akan bisa dilepaskan  dari nama besar grup band Nirvana, termasuk dari jenis aliran musik yang mereka usung. Sebuah aliran musik yang awalnya tidak dikenal dan hanya menjadi konsumsi komunitas lokal di Barat Laut Amerika Serikat, Seattle.

Grunge adalah genre musik yang diusung Nirvana. Tidak seperti genre music lainnya, aliran ini terisolasi dari sorotan media mainstream yang berpusat di Los Angeles dan New York. Grunge sendiri bermakna kumuh, kotor, namun kemudian menjadi sesuatu yang “digilai” di seluruh dunia lebih dari 20 tahun yang lalu.

Genre punk dan metal melebur dalam alunan yang dikelompokkan dalam subgenre alternative rock ini. Tidak cuma dari punk dan metal yang berkontribusi menciptakan “makanan lokal jadi global” ini, tetapi juga beberapa menggunakan “noise rock” yang mentah dan terdistorsi, namun bukan menjadi bising, tetapi justru menggambarkan nada baru yang menggerakkan tren anak muda kala itu.

Dalam perjalanannya, sejarah mencatat bahwa grunge mulai menjamur di Seattle sekitaran pertengahan tahun’80-an, terutama ketika sebuah album kompilasi enam band lokal, Green River, Sound garden, Melvins, Malfunkshun, Skin Yard, dan The U-Men. Keenam band tersebut membuat sebuah album bernama Deep Six yang dirilis, pada 1986.

Album tersebut menjadi perhatian kala itu, permainan mereka yang tergolong berat dengan suara agresif yang bercampur nada dengan tempo lambat dari heavy metal sulit dideskripsikan masuk ke dalam genre tertentu. Dari situlah cikal bakal grunge lahir.

selanjutnya, perlahan tapi pasti aliran ini mulai menarik perhatian media. Hingga pada akhirnya banyak band pengusung grunge bergabung dengan label komersil di era akhir ’80-an. Meskipun demikian hingga saat ini, belum ada yang menyangsikan peran Nirvana dalam mewujudkan grunge menjadi “konsumsi global.”

Tanpa mengecilkan para pendahulunya, bisa dikatakan jika Nirvana yang membawa virus grunge jadi mendunia dengan suksesnya mereka tampil dalam MTV Unplugged, pada tahun1992. Ketika itu, Nirvana membawakan beberapa lagu dari album pertama mereka, Bleach, dan juga album kedua mereka, Nevermind

Pada tayangan yang ditonton jutaan orang di seluruh dunia tersebut, Smells Like Teen Spirit adalah yang sukses membuat grunge merasuki jiwa anak-anak muda kala itu. 

Tidak hanya sampai disitu, bahkan album Nevermind dan Smells Like Teen Spirit mencapai kesuksesan komersil hingga sanggup menggeser album milik King of Pop, Michael Jackson, Dangerous, pada puncak Billboard kala itu. Smells Like Teen Spirit juga dianggap Rolling Stones ebagai bagian dari the 500 Greatest Songs of All Time.

Tak bisa disangsikan lagi, kesuksesan Nirvana di paruh awal dekade ’90-an membawanya menjadi salah satu band paling laris sepanjang masa. Dengan Kurt Cobain sebagai pentolannya, band yang sepanjang kariernya hanya menghasilkan tiga album studio ini sanggup meraih penjualan album hingga lebih dari 75 juta kopi di seluruh dunia. 

Sepertinya kesuksesan enggan meninggalkan band asal seattle ini, buktinya saja ketika Nirvana merilis album In Utero,album ketiga mereka pada 1993, kesuksesan masih membuntuti Kurt Cobain cs.

Kematian dari pentolan Nirvana, Kurt Cobain, yang mengejutkan pada awal April 1994 sempat membuat detak grunge terhenti. 

Boleh dikatakan, kesuksesan Nirvana dan band-band grunge lainnya seperti Pearl Jam menjadi tren bai anak muda kala itu. Kebiasaan hidup para pemain bandnya pun menjadi inspirasi banyak anak muda.

Smells Like Teen Spirit dibuat oleh Cobain dengan merefleksikan dirinya sendiri yang tergolong orang yang malas mencuci rambut. Rahasia itu diungkapkan oleh Charless Cross, editor media musik bulanan Seattle, The Rocket, kepada New York Times.

Kala itu, gaya dan penampilan Kurt Cobain banyak ditiru oleh anak-anak muda, meskipu banyak yang menganggapnya seperti pemuda yang tidur di tempat temannya selama bertahun-tahun atau pun tidur di bawah kolong jembatan.

Namun lebih dari sekadar tampilan gembel dari para musisi grunge yang menggambarkan kumuh dan dekil, musik ini dianggap oleh kebanyakan anak muda di era itu, termasuk juga dengan para penggemarnya hingga kini, sebagai sebuah pengetahuan, filosofi kehidupan yang menggambarkan empati, kecerdasan, cinta, hasrat, kemarahan anak muda, dan tentu saja tidak ada yang sanggup menggantikannya. lebih jauh lagi, genre ini menggambarkan ekspresi tak berbatas dan gabungan berbagai ideologi dan -isme yang berseliweran. (costa)


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *