Warning: mysqli_query(): (HY000/1): Can't create/write to file '/tmp/#sql_7ea5_0.MYI' (Errcode: 28 - No space left on device) in /host/depokberkarya/racikan.id/wp-includes/wp-db.php on line 2008
Hari ini 51 Tahun Lalu, Marthin Luther King Jr, Tewas “Di Dor” - RACIKAN.ID
Warning: mysqli_query(): (HY000/1): Can't create/write to file '/tmp/#sql_7ea5_0.MYI' (Errcode: 28 - No space left on device) in /host/depokberkarya/racikan.id/wp-includes/wp-db.php on line 2008

Hari ini 51 Tahun Lalu, Marthin Luther King Jr, Tewas “Di Dor”

Racikan.id – Peraih Penghargaan Nobel Perdamaian 1964, Martin Luther King Jr, lahir pada 15 Januari 1929 di Atlanta Georgia, AS, dengan nama lahir Michael Luther King Jr.

Terlahir dari pasangan Afrika-Amerika, Pendeta Martin Luther King Sr dan Alberta Williams King, membuat King Jr tumbuh sebagai anak yang religius. Namun kehidupan masyarakat selatan AS saat itu yang masih lekat dengan rasisme membuatnya mengalami banyak pengalaman buruk dan merasa skeptis.

Pada pertengahan 1950, Martin Luther King Jr menjadi aktivis sosial yang memimpin pergerakan hak-hak sipil di negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Dirinya sangat berperan besar dalam perlawanan mengakhiri undang-undang pemisahan rasial antara keturunan Afrika-Amerika dengan warga kulit putih di AS, terutama di wilayah selatan.

Sebagai aktivis Sosial, namanya mulai dikenal secara nasional saat King Jr menjadi pemimpin Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan (SCLC) yang menyuarakan perlawanan tanpa kekerasan oleh masyarakat kulit hitam Amerika untuk mendapatkan hak-hak sipil mereka. Perjuangan dan peranannya dalam melawan praktik undang-undang pemisahan rasial itu mengantarkannya menjadi peraih penghargaan Nobel Perdamaian pada 1964.

Saat dirinya berusia enam tahun, King Jr muda pertama kali merasakan pengalaman menyakitkan terkait pemisahan ras. Ketika itu, orangtua temannya yang merupakan kulit putih melarang mereka berteman, hingga keduanya masuk ke sekolah yang berbeda. Memasuki usia remaja, King Jr melanjutkan pendidikannya di sekolah menengah Booker T Washington di Atlanta.

Di tempat  inilah seorang Marthin Luther King Jr menggali bakat dan kemampuan berbicara dan berpidato dihadapan banyak orang, sehingga dirinya terpilih masuk dalam tim debat sekolah dan memenangi sejumlah kompetisi. Pada masa itu, sekali lagi King Jr kembali mendapat pengalaman tidak menyenangkan terkait dengan warna kulitnya.

Saat itu, ketika kembali dari sebuah kompetisi debat di Georgia menuju Atlanta, King Jr ditemani gurunya menggunakan bus. Dalam perjalanan, ia dan gurunya diminta berdiri dari tempat duduk agar seorang penumpang kulit putih dapat menempati kursi mereka.

Sementara itu, dilingkungan sekolah, King Jr termasuk siswa yang pintar dan disenangi teman-temannya. Berkat kepintarannya, King Jr berhasil lolos seleksi dan diterima di Perguruan Tinggi Morehouse di usia 15 tahun.

Berkat kecerdasannya itu pula, dirinya hanya butuh empat tahun untuk meraih gelar sarjana sosiologi dan kemudian memilih bergabung di sekolah seminari teologi Crozer di Pennsylvania. Selanjutnya King Jr menempuh studi pascasarjana di Universitas Boston. Di tahun 1953, ia menikah dengan Coretta Scott dan memiliki empat anak dari pernikahan mereka.

Pada tahun 1955, di usianya yang  masih 25 tahun, King Jr merampungkan studinya dan meraih gelar doktoral. Setahun sebelumnya, King Jr juga resmi mengikuti jejak sang ayah dan menjadi pendeta di Gereja Baptis Dexter Avenue di Montgomery, Alabama.

Gerakan Boikot Bus

Ketika itu masih di tahun 1955, lantaran dipicu dengan peraturan yang mewajibkan warga keturunan Afrika Amerika untuk menyerahkan kursi mereka kepada warga kulit putih di bus. Maka Asosiasi Nasional untuk Warga Kulit Berwarna (NAACP), sebuah organisasi hak sipil yang memperjuangkan persamaan hak bagi warga kulit hitam dengan kulit putih, melancarkan aksi boikot terhadap jasa bus umum.

Diskriminasi itupun memakan korban, Rosa Park (42), seorang warga Afrika Amerika dihukum denda 10 dollar AS karena tindakannya yang menolak menyerahkan tempat duduknya di bus untuk penumpang warga kulit putih.

King Jr yang baru bergabung dengan NAACP ditunjuk sebagai pemimpin aksi boikot. Berkat kemampuannya dalam berkomunikasi, maka pidato Martin Luther King Jr, berhasil memberi kekuatan baru ke dalam upaya memperjuangkan hak sipil di Alabama.

Akibat aksi boikot bus yang berlangsung lebih dari satu tahun itu, warga keturunan Afrika Amerika di Montgomery mendapatkan tekanan dan intimidasi. Belum lagi mereka harus berjalan ke tempat kerja karena menolak menggunakan bus.

Karena aksi boikot itu pula, tempat tinggal King Jr sempat mendapat serangan dari oknum tak dikenal. Komunitas warga Afrika Amerika juga mengambil tindakan hukum untuk memperjuangkan hak sipil mereka, melawan undang-undang yang mengatur pemisahan rasial dalam kendaraan umum.

Rupanya, upaya mereka membuahkan hasil dan peraturan yang memisahkan tempat duduk bagi warga keturunan Afrika Amerika dengan warga kulit putih akhirnya dicabut. Setelah keberhasilan itu, Martin Luther King Jr bersama sekitar 60 pendeta dan aktivis hak sipil mendirikan Konferensi Kepemimpinan Kristen Selatan (SCLC) untuk memanfaatkan otoritas moral dan menyusun kekuatan gereja-gereja komunitas warga kulit hitam.

Perlawanan Tanpa Kekerasan

Pada februari 1960, komunitas mahasiswa Afrika-Amerika di Greensboro, Carolina Utara, melancarkan aksi menentang aturan pemisahan tempat duduk di kantin dan restoran kota. Mereka melakukan aksi duduk di kursi yang dikhususkan bagi warga kulit putih dan tetap bertahan saat diminta pindah. Lantaran aksi itu, membuat para peserta aksi menerima kekerasan fisik maupun verbal.

Mendengar adanya aksi tersebut, Martin Luther King Jr bersama SCLC mendukung para mahasiswa  dengan menekankan agar mereka tetap menggunakan metode protes tanpa kekerasan. Setelah beberapa bulan melancarkan aksi protes, tepatnya pada Agustus 1960 gerakan tersebut berhasil menghentikan aturan pemisahan tempat duduk berdasarkan warna kulit di 27 kota.

Selanjutnya, perjuangan King Jr terus berlanjut. Di musim semi 1963, King Jr menggerakkan massa untuk berdemonstrasi damai di pusat kota Birmingham, Alabama dan akhirnya dipenjara. Selama dalam penjara dia menuliskan surat yang menguraikan gambaran perlawanan tanpa kekerasan terhadap rasisme. Tulisannya itu akhirnya dikenal dengan “Surat dari Penjara Birmingham” dan membuat sosok King Jr kian dikenal.

Masih ditahun yang sama, tepatnya pada 28 Agustus 1963, pidato yang disampaikan Martin Luther King Jr dalam sebuah aksi demonstrasi besar-besaran yang diikuti 200.000 orang di Lincoln Memorial di Washington menjadi momen bersejarah. Dalam pidato berjudul “I Have a Dream” atau Saya Mempunyai Mimpi, Martin Luther King Jr mengungkapkan keyakinannya bahwa suatu saat setiap manusia di AS akan dapat saling bersaudara tanpa memperhatikan warna kulit.

lantaran pidatonya itu, gelombang perlawanan yang mempertanyakan hukum yang memperlakukan warga keturunan Afrika-Amerika sebagai penduduk kelas dua semakin gencar. Akhirnya pada 1964, Undang-undang Hak Sipil diloloskan pemerintah federal. Undang-undang tersebut melarang adanya diskriminasi rasial di fasilitas milik publik. Di tahun yang sama pula, Martin Luther King Jr menerima penghargaan Nobel Perdamaian. Walaupun Undang-undang Hak Sipil telah disahkan pada 1964, akan tetapi dalam kenyataan, praktik penerapannya cukup lambat. Namun Martin Luther King Jr tak pernah lelah dalam menyuarakan hak-hak sipil.

 Akhir Kehidupan Marthin Luther King Jr

Aksi pemogokan kerja yang dilakukan oleh para pekerja sanitasi di Memphis Pada 1968, rupanya menjadi panggung terakhir bagi perjuangan seorang Marthin Luther King Jr.

Tanggal 3 April, sehari sebelum kematiannya, dengan pidatonya King Jr masih membakar semangat para pekerja untuk memperjuangkan hak-hak mereka. Dan dihari naas, 4 April 1968,  Saat itu dia sedang berdiri di balkon Motel Lorraine, ngobrol dengan rekan-rekannya tentang rencana makan malam.

Salah satu diantara mereka adalah Jesse Jackson, yang masih berusia 26 tahun dan belakangan menjadi salah seorang calon presiden Amerika Serikat.

Tiba-tiba saja sebuah peluru  menghantam tubuhnya, Marthin Luther King Jr terbunuh. Berkat perburuan internasional, Si penembak jitu, yang diketahui bernama James Earl Ray ditahan dua bulan setelah insiden tersebut. Dirinya mengaku melakukan pembunuhan terhadap Martin Luther King Jr dan dijatuhi hukuman 99 tahun penjara pada 1969. Pada 1998 James Earl Ray meninggal di penjara.

Meski telah tiada, peninggalan Martin Luther King Jr terhadap persamaan hak sipil tetap bertahan dengan disahkannya Undang-undang Hak Sipil 1968. Undang-undang tersebut mengatur larangan diskriminasi dalam perumahan dan transaksi terkait perumahan atas dasar ras, agama, atau asal negara.

Undang-undang ini menjadi penghargaan terhadap perjuangan King Jr di tahun-tahun terakhirnya memerangi diskriminasi ras di AS.

 
Penulis :Obeth

“dari berbagai sumber referensi”

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

eight − 5 =