tojoh dunia

12 April 1945: Presiden ke-32 AS, Salah Satu Tokoh Sentral Perang Dunia II, Franklin D Roosevelt, Meninggal Dunia

12 April 1945, Roosevelt mengalami pendarahan otak yang amat parah dan pada pukul 15.35 ia dinyatakan meninggal. F.D. Roosevelt, salah satu tokoh sentral dalam Perang Dunia II, tidak sempat melihat kemenangan resmi AS di peperangan terbesar itu. Ia juga tak pernah menyaksikan tewasnya Mussolini pada 28 April 1945, kematian Hitler yang bunuh diri dua hari kemudian, juga luluh-lantaknya Jepang akibat bom atom AS

Racikan.id –Salah satu tokoh berpengaruh di abad 20, Franklin Delano Roosevelt dilahirkan di sebuah rumah perkebunan milik keluarganya di Springwood, Hyde Park, New York, Amerika Serikat Pada 30 Januari 1882.

Pria yang biasanya di panggil dengan sebutan Frank oleh keluarga dan teman dekatnya itu, tercatat hingga saat ini sebagai satu-satunya Presiden AS yang pernah menjabat selama empat periode berturut-turut.

Presiden ke-32 dalam sejarah Negeri Paman Sam ini, adalah anak tunggal dari James Roosevelt dan Sara Ann Delano. Franklin D. Roosevelt menghabiskan masa kecilnya di rumah keluarganya di Hyde Park. Karena diajar di rumah, dirinya tidak pernah memiliki banyak waktu untuk bermain dengan teman-teman sebayanya. Pada tahun 1896, ketika berusia 14 tahun, Roosevelt dikirim untuk pertama kalinya ke sekolah formal di Grotton, Massachusetts. Dan, selama belajar di Grotton, Roosevelt dianggap sebagai murid yang biasa-biasa saja.

Pada tahun 1900, Roosevelt belajar di Harvard University. Dan Ketika baru menjalani beberapa bulan saja masa perkuliahannya di tahun pertama, ayahnya meninggal dunia. Roosevelt terlibat aktif dengan surat kabar kampus bernama “The Harvard Crimson”, ia bahkan menjadi editor pelaksananya pada tahun 1903.

Masih ditahun yang sama pula, Franklin D. Roosevelt bertunangan dengan Anna Eleanor Roosevelt. Dua tahun kemudian, mereka menikah pada hari raya Santo Patrick, 17 Maret 1905. Selama 11 tahun pernikahannya itu, mereka dikaruniai 6 orang anak, 5 di antaranya bertahan hidup melewati masa bayi mereka.

Di tahun 1910, Franklin D. Roosevelt diminta menjadi wakil untuk mengisi kursi senat atas nama Partai Demokrat di Duchess County, New York. Kursi senat tersebut telah lama dikuasai oleh wakil dari Partai Republik. Akhirnya meski mendapat banyak kesulitan, Roosevelt memenangkan kursi senat tersebut pada tahun 1910, dan lagi pada tahun 1912.

Kariernya sebagai senator negara bagian pun terhenti pada tahun 1913 karena ditunjuk oleh Presiden Woodrow Wilson untuk menjabat sebagai Asisten Sekretaris di Angkatan Laut. Jabatan ini menjadi semakin penting ketika AS memulai persiapan mereka untuk berperang pada Perang Dunia I.

Roosevelt memiliki keinginan untuk terjun semakin dalam di dunia politik seperti sepupu kelimanya, Presiden Theodore Roosevelt. Meskipun karier Franklin D. Roosevelt terlihat menjanjikan, namun ia tidak memenangkan setiap pemilihan. Pada tahun 1920, Roosevelt dipilih menjadi kandidat wakil presiden dari Partai Demokrat, bersama James M. Cox sebagai calon presidennya. FDR dan Cox kalah dalam pemilihan itu.

Setelah mengalami kekalahan itu, FRD memutuskan untuk mundur sejenak dari dunia politik dan kembali berkecimpung dalam dunia bisnis. Beberapa bulan kemudian, Roosevelt jatuh sakit.

 Menjelang usia kepala empat dan disaat karier politiknya mulai cerah. Roosevelt mengalami kelumpuhan.  Pada 1921, ia divonis telah terserang penyakit poliomyelitis (polio) yang kala itu belum ditemukan obatnya.

Seperti dicatat James Tertius de Kay dalam Roosevelt’s Navy: The Education of a Warrior President 1882-1920 (2013), Roosevelt waktu itu sebenarnya baru saja menuntaskan tugas sebagai Asisten Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat yang diembannya sejak 1913 hingga 1920.

Namun, kelumpuhan memaksa Roosevelt harus menepi, kariernya pun terancam tamat lebih dini. Tidak langsung patah arang, Roosevelt bertekad mengalahkan penyakitnya itu, sabar menjalani pengobatan dan terapi, serta memperkuat jiwanya dengan memperdalam berbagai wawasan dan ilmu pengetahuan selama terbaring tanpa daya.

Alhasil kesabarannya itu berbuah hasil. Tahun 1924, Roosevelt dinyatakan pulih dan mulai beraktivitas kembali, termasuk di kancah politik. Terpilih sebagai Gubernur New York pada 1 Januari 1929 membuka peluang Roosevelt untuk menggapai mimpinya menjadi orang nomor satu di negeri Paman Sam, dan rupanya mimpi pun menjadi kenyataan. Ia memenangkan pemilihan umum 1932 dan dilantik sebagai Presiden AS ke-32 pada 4 Maret 1933.

Ketika itu Franklin Delano Roosevelt maju sebagai calon presiden dari Partai Demokrat. Hasilnya, ia menang dengan 57,4% suara, mengalahkan rivalnya dari Partai Republik sekaligus Presiden Petahana, Herbert Hoover, yang hanya meraih 39,7% suara.

Jabatan tertinggi ini terus didekapnya selama empat periode ke depan secara berturut-turut. Hingga akhirnya, Roosevelt wafat pada 12 April 1945, ketika masih menjabat sebagai Presiden AS. Nyawanya tak tertolong setelah terkena stroke saat menikmati liburan dalam fase-fase genting pada masa Perang Dunia II.

James MacGregor Burns dalam Roosevelt: The Lion and the Fox (1956) menuliskan bahwa gaya kepemimpinan Theodore yang kuat dan semangat reformasi yang digaungkannya menjadi panutan bagi Franklin dalam memimpin Amerika (hlm. 24).

Waktu terpilih menjadi pemimpin baru negeri Paman Sam, tantangan yang amat berat sudah menanti Roosevelt. Pasalnya,  disaat itu, AS sendiri tengah mengalami krisis ekonomi terburuk yang terkenal dengan istilah “The Great Depression”. Dikutip dari The American Economy (2003), lebih dari 13 juta orang di AS menganggur dan sistem keuangan serta industri negara itu lumpuh (hlm. 200).

Roosevelt melakukan berbagai terobosan dalam program 100 hari pertama kepemimpinannya, termasuk menerapkan undang-undang federal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Kemudian ia meluncurkan program bantuan bagi pengangguran, petani, hingga perusahaan-perusahaan lokal, sembari mencari solusi pemulihan ekonomi.

Berkat program-program tersebut maka pamornya menjadi meningkat. Adapun serangkaian program ambisius Roosevelt dikenal sebagai “New Deal”. Seperti diungkap Kevin Hillstrom dalam The Great Depression and the New Deal (2009),

Dimasa-masa awal pemerintahannya, Roosevelt mulai sanggup memulihkan perekonomian negara, kendati belum sepenuhnya stabil. Keberhasilan inilah yang membuatnya terpilih lagi sebagai Presiden AS dalam pemilihan umum tahun 1936.

Roosevelt meraih kemenangan telak dengan 60,8% suara atas penantangnya dari Partai Republik, Alf Landon. Dua pemilihan umum berikutnya, 1940 dan 1944, Roosevelt belum tergoyahkan, dengan mengantongi kemenangan masing-masing 54,7 serta 53,4 persen suara.

Dengan demikian, Roosevelt tercatat dalam sejarah sebagai satu-satunya Presiden Amerika Serikat yang terpilih empat kali secara beruntun.

Bukan saja direpotkan oleh urusan dalam negeri, Roosevelt juga harus bersikap dalam menghadapi situasi global yang kian memanas sejak Jerman menyerang Polandia pada September 1939. Perang Dunia jilid II  sudah di depan mata yang melibatkan negara-negara Sekutu dan seterunya dari kelompok fasis macam Jerman era Nazi, Italia, atau Jepang, juga blok Komunis yang dimotori Uni Soviet.

Dalam situasi seperti itu, awalnya Roosevelt berusaha menghindari peperangan meski siap membantu negara-negara yang terancam diserang. Pada 29 Desember 1940, sebagaimana dicatat Frank McDonough dalam The Origins of the Second World War (2011), Roosevelt menyebut AS sebagai Arsenal of Democracy atau “Gudang Demokrasi”, dengan, misalnya, akan memberikan bantuan militer kepada Inggris (hlm. 463).

Namun selepas Jepang menyerbu pangkalan militernya, Pearl Harbor, di Hawaii, pada 7 Desember 1941, sikap Negeri Paman Sam berubah. Roosevelt kini menjadikan AS sebagai salah satu aktor utama Perang Dunia II, meskipun yel-yel “perdamaian” dan “demokrasi” tetap menjadi slogan yang terus digaungkan.

Sebelumnya, Roosevelt bersikukuh bahwa AS berada di pihak yang netral dan menjalankan apa yang ia sebut sebagai “upaya untuk perdamaian dan demokrasi”. Salah satunya adalah disepakatinya Piagam Atlantik bersama Perdana Menteri Inggris, Winston Churchill, pada 14 Agustus 1941.

Di sinilah Roosevelt mencetuskan istilah “United Nations” yang nantinya diresmikan menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) setelah ia wafat.

Setelah peristiwa penyerangan jepang ke Perl Harbour. Jerman dan Italia menyatakan perang terhadap AS. Roosevelt pun semakin aktif dalam urusan gempur-menggempur ini. Sebelumnya, Jerman, Italia, dan Jepang, ditambah Hungaria, Slovakia, serta Rumania, seperti ditulis William L. Hosch dalam World War II: People, Politics, and Power (2009) telah membentuk Blok Poros atau Axis Powers (hlm. 61).

Usai pernyataan perang Blok Poros itu, Roosevelt mengerahkan daya dan upaya yang dimiliki AS untuk menjalankan pertempuran total. Kemenangan AS yang kini bernaung di kubu Sekutu mulai terlihat pada 1943, terbantu dengan kalapnya Adolf Hitler yang juga memusuhi Uni Soviet, serta melemahnya Italia di bawah Benito Mussolini, hingga rentetan kekalahan Jepang.

Dalam Power and Culture: The Japanese-American War 1941-1945 (1981), Akira Iriye mencatat, pada November 1943, Roosevelt bersama Churchill bertemu dengan pemimpin Republik Rakyat Cina (RRC) Chiang Kai-shek di Kairo (Mesir) dan pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin di Teheran (Iran).

Dua pertemuan ini membahas penuntasan masalah dengan Jerman dan Jepang serta rencana pasca perang (hlm. 154).

Sementara itu, pasukan AS meraih kemenangan telak dalam Pertempuran Laut Filipina pada Juni 1944 dan membuat Perdana Menteri Jepang Hideki Tojo meletakkan jabatannya. Dan pada akhirnya Jepang harus mengibarkan bendera putih setelah AS menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada 6 dan 9 Agustus 1945. Sementara di Eropa, kekuatan Jerman semakin tergerus, juga Italia yang kian lemah dan terpecah-belah.

Tanggal 4 hingga 11 Februari 1945, Roosevelt, Churchill, dan Stalin bertemu di Yalta, kota pesisir di Semenanjung Krimea yang terletak di ujung timur Eropa, untuk membahas rencana selanjutnya jika kemenangan sudah tercapai. Selepas pertemuan melelahkan itu, Roosevelt mengeluh sakit dan memutuskan berlibur sejenak ke Warm Springs, Georgia, AS.

Di tengah masa rehatnya itulah Roosevelt ternyata harus beristirahat selamanya. Pada 12 April 1945, tepat hari ini 74 tahun silam, ia terserang stroke lalu meninggal dunia dalam usia 63 Tahun. Jabatan presiden kemudian diteruskan oleh wakilnya, Harry S. Truman.

Penulis : Obeth

“ Dari berbagai sumber referensi”

Please follow and like us:
0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

12 + 11 =